Banyak orang bilang wisata
sejarah di situs megalitikum Gunung Padang tidak menarik, bahkan ada yang
mencibir "ngapain jauh-jauh kesana cuma untuk liat batu berserakan".
Kalau memang tidak menarik kenapa tetap ramai pengunjung?
 |
| Batu berserakan yang tetap ramai dikunjungi |
Situs Gunung Padang adalah tanda
bahwa Indonesia memiliki peradaban yang jauh lebih maju dibanding peradaban di
belahan bumi lainnya. Dalam rentang waktu tahun 2010-2014, terungkap bahwa
Gunung Padang adalah situs sejarah menyerupai Piramida dengan ukuran 9 kali
lebih besar di banding Borobudur yang dibangun 16.000 SM jauh lebih tua
dibandingkan piramida-piramida di Mesir sana. Masih tetap bilang
"sekumpulan batu yang berserakan"? Batu di Gunung Padang bukan
sembarang batu, hampir semua batu di sana memiliki bentuk geometri, tidak hanya
sekedar bongkahan batu semata. Rata-rata batu disana berbentuk balok memanjang.
Bayangkan bagaimana hebatnya orang jaman dahulu bisa memahat batu menjadi
berbentuk balok dengan potongan yang rapi.
 |
| Batu yang terpotong simetris (abaikan model dadakan :p) |
Jaman dulu, kabarnya situs ini merupakan
tempat pemujaan yang bentuknya punden berundak dengan 5 tingkatan. Saat ini
disediakan 2 jalan untuk menuju ke atas Gunung Padang. Setelah membayar tiket
masuk sebesar Rp 2.000,-, silahkan memilih antara jalur ziarah atau jalur
wisatawan. Konon jalur ziarah adalah rute asli yang digunakan masyarakat jaman
dulu untuk melakukan pemujaan dengan kemiringan mencapai 60 derajat. Saya yang
mengaku wisatawan memilih untuk menggunakan jalur wisatawan :p. Jalur ini sudah
dibuat tangga dengan railing, aman walaupun tetap membuat sulit napas saat
bertemu musuh bebuyutan saya, tangga dan tanjakan.
 |
| Tangga wisata yang medannya lebih ringan namun memakan waktu tempuh lebih lama |
Di bagian atas, batu yang
ditemukan tidak hanya berbentuk balok, ada yang segilima, oval, tiang batu atau
tugu yang dulunya digunakan sebagai menhir tempat memuja arwah nenek moyang.
Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya menyerupai senjata Kujang, batu dengan
cetakan tapak harimau dan batu yang bisa berbunyi saat kita pukul.
 |
| Salah satu batu yang bisa berbunyi seperti Gong |
Sangat disayangkan hingga saat
ini tidak bisa dipastikan apakah proses penggalian situs ini akan terus
dilanjutkan atau dibiarkan terbengkalai seperti adanya sekarang.
Pemandu-pemandu disana juga tidak bisa memastikan tentang kelanjutan pemugaran
situs terbesar se-Asia Tenggara ini. Padahal dengan ditemukannya situs ini
setidaknya bangsa Indonesia bisa berbangga dan menunjukan pada dunia kalau
Indonesia memiliki peradaban yang lebih maju.
 |
| Proses evakuasi yang terhenti |
Memang tampilan situs Gunung
Padang tidak seindah Borobudur, tapi dengan cerita sejarah dibaliknya setidaknya
saat kita berada di sana kita bisa sedikit berimajinasi betapa megahnya situs
ini. Soo, jangan dulu mencibir tentang batu berserakan di sini. Sedikit
meluangkan waktu menyaksikan hebatnya peradaban Indonesia di jaman dahulu,
arahkan kendaraan menuju Warungkondang dari Cianjur kota. Dari sini sudah
banyak petunjuk untuk ke situs Megalitikum Gunung Padang. Jika berkunjung saat hari
biasa, kendaraan pribadi bisa naik hingga ke depan loket tapi saat weekend kendaraan harus diparkir di
bawah, dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menyewa ojek seharga 15.000,-
untuk rute PP.
 |
| Ilustrasi Gunung Padang, sumber www.tempo.com |
 |
| Perbandingan luas Borobudur dan Gunung Padang, sumber www.koridortimur.com |
Tanpa gadget, tanpa jaringan internet, masyarakat jaman dahulu bisa
menghasilkan sesuatu yang megah di dunia nyata. Saat ini kita dilimpahi gadget canggih dan jaringan internet dan
yang bisa kita buat paling hebat adalah megahnya benteng Clash of Clan di dunia maya.
 |
| Jalan-Jalan Jeprat-Jepret |
Label: Borobudur, Cianjur, Indonesia, Jawa, Jawa Barat, Sejarah, Situs, Wisata