Jabat tangannya terasa mantab sambil menyunggingkan senyum lantas beliau
mengibaskan tangannya tanda bergegas untuk kami. Tergopoh-gopoh kami menyusul
seorang bapak, yang saya terka telah berusia diatas 60 tahun namun masih
berjalan dengan lincahnya. Atasan abu-abu berbalut kain batik hijau terang
bermotif Mega Mendung dengan penutup kepala bermotif serupa. Sesekali beliau
melempar pandang di atas bahunya memeriksa keadaan kami yang tertinggal di
belakang karena sibuk mempersiapkan kamera.
 |
| Keraton Kasepuhan |
Melambatkan langkahnya di antara bangunan yang terlihat seperti
pendapa-pendapa kecil tersebar di halaman depan keraton. Siti Inggil, beliau
berkata dengan lantang. Atau tanah tinggi dalam bahasa Indonesia. Memang, tanah
tempat kami berpijak saat ini terlihat lebih tinggi menghadap langsung ke jalan
di luar keraton, hanya parit besar yang menjadi pembatas antara jalan dan
lingkungan keraton. Imajinasi kami berkelana saat zaman dahulu jalan ini dipadati
oleh barisan prajurit yang sedang berlatih perang, memamerkan kemampuan
berkuda, Sang Sultan dan keluarganya bergeming memantau dari pendapa bernama Malang Semirang. Ada 4 pendapa lain
dengan nama berbeda untuk masing-masing golongan. Mande Pandawa Lima, Mande Semar Tinandu, Mande Pengiring dan Mande Karasemen mengekor setelah Malang Semirang.
 |
| Mande Karesmen di Siti Inggil |
 |
| Gapura bata merah tanpa semen yang berhiaskan keramik |
Membuyarkan lamunan kami di Siti Inggil, sang Bapak setengah
menggiring kami untuk masuk ke dalam melewati sebuah gapura bergaya Hindu-Budha
yang terbuat dari bata merah. Menurut beliau, gapura ini dibangun tanpa
menggunakan semen sama sekali. Dan uniknya, gapura ini berhiaskan piring-piring
keramik hadiah dari Negeri Tirai Bambu. Sekonyong-konyong bayangan akan puluhan
kuda yang tertambat di halaman Pengada kembali
bermain di imajinasi kami. Halaman ini dulunya memang digunakan untuk
menambatkan kuda-kuda tamu keraton. Tajug
Agung atau musala berada tepat di seberangnya, kami melintas dipandu beliau menuju ke bangunan utama keraton meninggalkan suara langkah prajurit yang
bergema dalam imajinasi kami.
 |
| Perbedaan bentuk gapura sebagai salah satu bukti akulturasi budaya |
Gapura putih beratap Joglo menjadi pembatas kami dengan area
dalam Keraton. 1 penjaga berbadan tegap tersenyum menyeringai menyapa kami. Sang Bapak terlihat menyapa dalam bahasa daerah, mungkin beliau memintakan izin untuk
kami. Pohon-pohon besar menaungi kami dari sengat mentari begitu kami mencapai
sisi dalam keraton. Terlihat simteris penataan di dalam area keraton. Tepat di
tengah terdapat sebuah taman, Bunderan
Dewandaru. Taman berbentuk lingkaran dengan patung singa putih di tengahnya
sebagai lambang dari Kerajaan Padjajaran.
 |
| Singa putih lambang Padjajaran |
"Kemari"
Sambil melangkah ke sisi kiri Dewandaru. Seraya mendorong pintu kayu yang cukup besar, tepat di
tengah ruang terdapat kereta kencana Sultan. Sang Bapak dengan kagumnya
menjelaskan bahwa kereta tersebut adalah perpaduan budaya yang dilambangkan
dengan hewan. Perpaduan antara burung, gajah dan naga yang menciptakan bentuk
Kereta Singa Barong. Di dalam ruangan masih terdapat tandu-tandu yang digunakan
permaisuri dan anggota keluarga Keraton. Saat menjelaskan tentang lukisan Prabu
Siliwangi, kekaguman kembali tersirat dari nada suaranya. Seperti
lukisan-lukisan di Ullen Sentalu,
Lukisan Prabu Siliwangi terkesan 3 dimensi saat sorot mata dan arah kakinya
selalu searah dengan arah manapun saat kita memandangnya. Melanjutkan ke
bangunan di sebelah kanan Dewandaru, beliau seakan bangga dengan koleksi yang dimiliki oleh Sultan. Berbagai buah
tangan dari negara-negara tetangga, Eropa, India, China, tertata rapi di
ruangan ini. Sedikit terkekeh beliau menunjuk salah satu hiasan dinding berupa
kayu berpahat. Ternyata buah tangan dari India ini menggambarkan posisi
bercinta atau yang lebih dikenal dengan Kama Sutra.
 |
| Kereta Singa Barong |
 |
| Lukisan Prabu Siliwangi |
Bergegas ke bangunan utama keraton, beliau hanya
mengizinkan kami untuk menjejakkan kaki di beranda keraton. Di balik pintu
hijau merupakan area pribadi Sultan yang tidak dapat dikunjungi oleh semua
pengunjung. Di bangunan beranda ini saja kami sudah di buat tercengang dengan
perpaduan budaya yang ada, unsur Jawa, China dan Eropa. Keramik-keramik yang
tersebar di dinding beranda keraton ini cukup membuat saya tercengang karena
menuturkan tentang ayat-ayat Alkitab seperti penggambaran penyaliban Yesus. Beberapa
keramik pun terlihat dipasang miring, bahkan terbalik. Tanpa bermaksud
menghina, keramik yang tersusun acak ini bermakna agar siapapun yang mempunyai
pandangan harus dapat melihat dari segala macam arah tanpa terterungku di satu
sudut.
 |
| Di balik pintu hijau adalah area pribadi keluarga Sultan |
 |
| Hiasan keramik yang bercerita tentang Alkitab |
Di ujung perjalanan, sang Bapak mengizinkan kami untuk
tinggal lebih lama di Bunderan Dewandaru.
Berkelana selama 1 jam di kompleks Keraton tak menyurutkan langkah semangat
beliau untuk terus mewartakan sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon. Terpekur dinaungi
pohon beringin di samping bangunan kereta kencana, imajinasi kami masih terus
saja berkelana dan terperangah di keraton termegah di Kota Cirebon. Saya
sendiri sangat terkagum-kagum dengan akulturasi budaya yang ada di Keraton Kasepuhan.
Menegaskan betapa indahnya perbedaan, perbedaan bukan untuk memecah belah
tetapi menjadi dasar untuk membangun sesuatu yang kokoh dan indah.
 |
| Beranda utama keraton |
Label: cirebon, Indonesia, Jawa, Jawa Barat, Sejarah, Wisata